Kali ini dia punya lebih banyak cerita baru. Terkadang dia selalu punya masalah, kadang hal-hal biasa yang dipermasalahkan. Kamu masih setia mendengar, katanya atas nama cinta dan persahabatan. Namun berbeda dengan kamu, kamu masih punya cerita yang sama. Cerita cinderella-mu, yang kamu jaga sejak dulu.
Sama halnya seperti hari-hari sebelumnya. Kamu mengulang apa yang selalu kamu ulang, dan dia mencaci apa yang biasa ia caci. Namun hari ini memang tidak seperti hari biasanya. Kamu mengulang ceritamu dengan senyum, masih sedikit pahit seperti dulu, tapi raut wajah penuh keyakinan semakin nampak di tiap harinya. Lalu dia? dia tidak sekasar dulu, meskipun kamu tahu... caciannya tak pernah benar-benar sekasar yang dia mampu.
Ada yang paling kusuka saat kalian berjumpa sehabis ritual bercerita. Kalian biasanya berbagi harapan dan mimpi. Seakan ingin saling mengingatkan, bahwa katanya habis hujan terbitlah pelangi... meski becek di sana-sini. Hari ini ternyata hari bahagia. Kamu menunjukkan pada dia harapanmu yang kini bukan lagi harapan, melainkan kenyataan yang akan terwujud dalam hitungan waktu. Sebagai jawaban atas kisah cinderella yang ternyata belum waktunya terjadi padamu. Kamu atau dia sama-sama percaya, bahwa pelangi itu benar-benar ada entah dengan wujud apa dan kapan datangnya. Pelangi itu tetap akan datang. Mungkin bukan pangeran dengan sepatu cinderella, tapi siapa sangka... ini juga salah satunya dari mimpi dan harapan yang paling luar biasa, yang pernah ada, yang pernah kamu buat dan dia dengarkan dengan seksama. Harapan dan impian untuk bisa melihat dunia, lebih jauh dari yang kamu bisa. Mengenal dunia, lebih dari yang sudah kamu lakukan. Hebatnya, dunia memberi kamu kesempatan. Dunia menukar pangeranmu dengan pengalaman baru, kira-kira apa lagi yang lebih keren dari itu?
Aku tahu kamu dan dia sedikit gugup, tak apa... menatap dunia yang lebih luas memang perlu dihadapi dengan rasa gugup. Supaya kamu bisa sangat berhati-hati menikmati setiap detiknya. Juga dia bisa sangat seksama merasakan kebanggaanya.
Tak ada alasan untuk tidak berbahagia jika sebuah harapan kemudian menjadi nyata. Dia kemudian menangis, meraung-raung seperti anak kecil yang kehabisan es krimnya. Air matanya meledak begitu saja, kupikir ia tahu betul sejauh apa harapanmu telah tertanam, dan seberapa luka yang kamu dapat atas nama kehidupan. Seberapa besar kamu bangkit dan berusaha merajut kembali perasaan, sedikit demi sedikit mengubur kisah cinderella-mu dan menatap mantap menggapai harapanmu yang baru. Air matanya meledak begitu saja, menyadari bahwa sedikit atau banyak...
caciannya telah didengarkan.
caciannya telah didengarkan.


