Rabu, 13 Maret 2019

Loneliness


Ada hal menarik dari salah satu teman yang menghubungiku tadi malam.  Dia orang yang kukenal baik, orangnya cukup aktif dan sibuk dalam pekerjaanya. Kerap bertemu banyak orang, tapi kali ini dia menghubungiku dengan berkata 

" wa, kenapa ya... gue selalu ngerasa kesepian " 

Kemudian aku, seperti biasa, merefleksikan itu dengan diriku sendiri. Aku mengenal diriku sebagai orang yang bisa menghabiskan beberapa hari sendirian di sebuah apartemen sempit tanpa tetangga. Aku bisa hanya keluar, membeli makan untuk pagi, siang, dan sore kemudian mendekam di kamar itu selama yang aku mau. Maksudnya, aku tak banyak bicara, karena sedikit kesempatanku untuk berbicara dengan seseorang. Aku sangat suka aktifitas menyendiri, memang sesekali... rasa sepi itu hadir. Tapi aku berpikir, kesepian bagiku yang sehari-hari tinggal sendiri bukanlah hal yang tidak wajar terjadi.  

Lalu bagaimana dengan orang ini bahkan mungkin orang-orang lainnya? yang mungkin masih punya tetangga yang bisa diajak bicara, punya orang tua, kakak, atau keluarga yang dekat untuk bisa diajak bercerita, punya teman untuk bercengkrama, punya pekerjaan yang setiap hari menghubungkannya dengan banyak orang, mereka tetap merasa kesepian. Mungkin jika ingin bicara lebih jauh lagi, kita punya social media. Menusia memang memiliki kebutuhan untuk terhubung secara sosial dengan manusia lainnya dan akan merasa menderita jika hal tersebut tidak terwujud. Yaaa dalam hal ini kita tentu tahu sejak kita masih SD. Jika kita manusia selalu kehausan untuk bisa terhubung ke dunia maupun manusia lainnya, di dunia yang justru hyperconnection ini, dimana kita bisa dengan mudah terhubung dengan siapapun, kenapa kita masih merasa kesepian? 

Beberapa penelitian mengatakan bahwa loneliness bisa menyebabkan kita merasa depresi, kecemasan bahkan mengalami premature death. Hmmm... Satu hal yang mungkin kita semua tahu namun tidak cukup pahami adalah loneliness is a state of mind, sehingga rasa kesepian itu bisa muncul, meskipun kenyataannya dalam kehidupan nyata kita tidak sendirian. Karena level kesepian itu sendiri bukan diukur dari berapa banyak orang disekeliling kita, tapi sejauh mana diri kita merasa terhubung dan terikat pada orang-orang tersebut. Itulah kenapa di beberapa situasi, saat berkumpul dengan banyak orang, keluarga atau teman, kita masih merasa kesepian. Loneliness ini mungkin terjadi sesederhana setiap individu punya value dan gaya hidup yang berbeda dengan kita. Sehingga di beberapa situasi, ketidakcocokan tersebut akan menyebabkan kita merasa kesepian, merasa sendiri, merasa berbeda. Tapi jika kita berbicara mengenai faktor eksternal seperti value orang lain, itu sesuatu yang uncontrollable. Menemukan seseorang yang memiliki value yang sama ? cukup sulit memang. 

Aku pernah baca satu artikel yang menarik, bahwa kesepian  bisa muncul karena kita belum merasa dan belum memperlakukan diri kita sebagai orang yang cukup penting. Jadi, bisa dibilang bukan karena kita tidak terhubung dengan orang lain... tapi karena kita tidak terhubung dengan diri kita sendiri (sebenarnya dari tadi aku sedikit terganggu karena menggunakan kata 'terhubung' tapi aku harap... yaaaa kita sama-sama ngerti lah ya). Karena kita kurang membangun hubungan yang baik dengan diri kita sendiri. Maksudnya, memahami apa yang kita suka, memahami diri sendiri, melakukan apa yang ingin kita lakukan dan butuhkan, serta menikmati itu. Mungkin yang akan menjadi masalah adalah menemukan hal yang termasuk dalam kategori merawat dan mencintai diri sendiri itu seperti apa sih? Beberapa orang akan merasa aktifitas membaca dan menulis adalah aktifitas yang membuatnya merasa tenang, positif dan terhubung dengan dirinya sendiri, sementara beberapa orang lagi mungkin tidak merasa begitu. Sehingga kita butuh waktu untuk mencari tahu aktifitas apa sih yang membuat kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri untuk bisa mengurangi rasa kesepian yang kita rasakan. Tapi, point penting dari hal ini adalah...

If loneliness is a state of mind,  
loneliness is something we can change. 


xoxo 
with love, Adzwa





  

Selasa, 12 Maret 2019

Anxiety


Aku bukan penulis, jadi siapapun tidak akan menemukan tulisan yang menggugah perasaan disini. Tapi aku mau membagi sedikit apa yang ada di kepalaku selama enam tahun ini. Tulisan ini berulang kali gagal aku sampaikan, karena terkadang... apa yang aku tulis belum cukup menggambarkan apa yang dirasakan dan ingin diungkapkan. Well, kali ini... aku akan membiarkan ketidaksempurnaan dalam penyampaian itu terjadi. 

Enam tahun ini, bahkan mungkin lebih dari itu masalah terbesarku adalah kecemasan. Di tahun pertama aku menyadari itu, aku berusaha mencari cara, bagaimana melepaskan diri dari kecemasan tersebut. Tapi ternyata, bukan hanya aku yang mengalami itu, kita semua mengalami itu... namun dengan intensitas dan response yang berbeda. Kita selalu diliputi rasa cemas akan apapun. Kita cemas akan masa depan, pandangan orang, kata-kata orang, nasib, dan berbagai hal yang belum terjadi lainnya. Disaat yang berbeda atau bahkan mungkin bersamaan, kita cemas terhadap masa lalu, kesalahan di masa lalu yang belum bisa kita ubah, penyesalan, kesakitan, kegagalan, semuanya. Keduanya menghantui kehidupan kita di masa sekarang. Bagi sebagian orang yang beruntung, menghadapi itu adalah suatu kemudahan. Tapi bagi sebagian lainnya... entahlah. 

Aku mencoba berbagai cara, untuk bisa lepas dari itu. Kecemasan akan ketidakpastian, sesungguhnya sumber dari setiap permasalahan. Melepaskan kecemasan akan kegagalan di masa lalu dan berusaha untuk tidak mengontrol masa depan. Akhirnya pada tahapan pertama, aku  memutuskan untuk belajar memahami ketidakpastian. Apa itu ketidakpastian, bagaimana ketidakpastian itu bekerja. Hal ini dilakukan untuk bisa memanusiakan diri, untuk lebih memahami alasan kenapa suatu kecemasan bisa terjadi. Aku mendapati bahwa menerima diri, dengan bagaimana diri kita mengekspresikan kecemasan dan apa yang kita cemaskan akan membantu kita menuju step berikutnya. 

Terkadang, penerimaan diri akan bentuk kecemasan yang biasa kita keluarkan ini menjadi tahapan yang amat sangat sulit. Kenapa? karena secara tidak sadar kita terus membandingkan apa yang sebenarnya kita rasakan dan terjadi pada diri kita dengan standar yang kita anggap benar, atau standar yang diterapkan oleh kebanyakan orang. Sehingga sulit bagi kita, melakukan penerimaan diri itu. 

Aktifitas selanjutnya yang aku rasa membantu dalam proses penerimaan dan proses memahami diri adalah dengan mendengar cerita dan menulis. 
Mendengar cerita dan menulis, bagiku selalu punya nilai magis. Mendengarkan cerita adalah bagian dari refleksi diri. Terkadang aktifitas refleksi tidak bisa dengan sengaja dilakukan. Tapi dengan mendengarkan cerita, kita seakan-akan dipaksa untuk tidak sekedar mendengar dan memberi saran. Tapi melihat ke diri sendiri, apa yang salah, apa yang juga seharusnya diperbaiki. 

Dengan menulis, aku juga belajar memahami diri. Setelah menemukan kesalahan-kesalahan, kekurangan, aku belajar memahami cara pandangku sendiri, memahami apa yang aku rasakan dan bagaimana aku menyikapi itu. Di titik ini aku menyadari, bahwa sesungguhnya hal yang dilalui oleh banyak orang adalah bagaimana kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan tanpa perlu ketakutan tapi juga dengan cara yang tepat.

Sedikit demi sedikit, kecemasan itu tidak menghilang, tapi bisa diterima dan dikontrol. Karena aku mulai memahami bahwa kecemasan adalah hal yang manusiawi. Aku tidak lagi cemas apa yang akan dilakukan oleh dunia atas setiap tindakan yang mungkin akan aku lakukan, atau mungkin telah aku lakukan. Karena dunia ini pun sama seperti aku, merasa cemas. Semuanya sama-sama sedang berusaha, menjadi sebaik-baiknya diri mereka menurut versi mereka sendiri, begitu juga aku. 

Aku menemukan ini sangat menenangkan. Aku bisa dan masih terus belajar menikmati apapun yang terjadi sekarang. Saat hancur, aku memahami bahwa kehancuran memang selalu terjadi, pada siapapun dan kapanpun. Aku tidak terlalu tenggelam atau jika terlanjur tenggelam, aku tahu cara untuk kembali ke permukaan. Juga saat bahagia, aku menikmati kebahagiaan itu. Tanpa peduli apakah suatu hari nanti kebahagiaan ini mungkin akan pergi. Aku hidup di hari ini, bahkan bisa merasakan kebahagiaan tanpa terjadi banyak hal istimewa di hari yang sama. Ini sangat menangkan, merasa cukup, feeling content. Aku tahu inilah yang selama ini kita cari, untuk orang-orang seperti 'kita' yang bertahun-tahun mempelajari dan menyadari betapa sulitnya menghadapi anxiety. 


xoxo
with love, Adzwa





Swear on This Life - Renee Carlino






" ...In class we say that's too on the nose when someone has written a story scene where exactly what you think should happen does happen. Or when the events are too perfect or precise. But in real life, we have a hard time recognizing serendipitious moments because we're not making the story up as we go along. It's not a lie - it's really happening to us, and we have no idea how it will end. Some of us will look back on our lives and recall events that were a bit too perfect, but until you know the whole story, it's impossible to see the universe at work, or even admit that there is something bigger than us, making sure everything that should happen does happen. If you can surrender to the idea that there might be a plan, instead of reducing every magical moment to a coincidence, then love will find you... 




He found me " 



-- Renee Carlino - Swear on This Life.









Senin, 11 Maret 2019

soul connections






The Phrase " you just know when you know " when meeting a soul (mate) is often misused. There is a kind of knowing that comes through observation. You can meet someone and *know* right away you want to know them more ; but that isn't the kind of knowing meant for this phrase. This knowing is when you meet a person for the first time and feel as though you somehow recognize each other immediately. It feels like a message that is somehow delivered to you from right within you ; as instinctive as the way your body tells you that you're hungry. In an instant, you see and are seen. It is knowing that feels like a truth. It's a reflex that could only be triggered by meeting someone in sync with your soul. Experiencing this, sets the benchmark for the depth of emotional and spritual connection you can feel with another. This person may become your 'forever' - or they may just be part of your journey. Life doesn't guarantee that all soul connections will turn into the love of your life - but you can be certain that the impact of meeting such a person connects you to the energy of the universe. Be it as a lifelong partner or an 'almost lover', embrace the lessons this person can bring. Ask how knowing them can show you the path to your best self. 


-- Marisa Victoria. 







Minggu, 10 Maret 2019

hope


Jika persahabatan bisa diukur dari seberapa besar mereka saling mengetahui apa yang disukai satu sama lain, mungkin belum saatnya kamu memanggil dia sahabat. Dia tak pernah tahu seberapa besar kamu suka makanan manis. Tapi hari itu, harimu baru akan sempurna dengan waffle nutella dan ice cream vanilla. Hingga kalian harus pergi, ke sebuah kafe setelah kalian menghabiskan dua potong ayam besar untuk makan siang. Dua potong ayam dan sebungkus nasi. Di kafe itu kalian memulai ritual, seperti biasa. Perbincangan yang boleh dimulai dari mana saja, dan kalian bebas menentukan apakah itu kamu, atau dia yang melakukan permulaan. Kamu akan mendengarkan ceritanya dengan baik, begitu juga sebaliknya. Kekurangan dia hanya satu, dia kurang baik dalam hal menunggu, untuk itu ceritanya kerap kali disampaikan lebih dulu. Seperti biasa, dia terlalu banyak bicara, dan kamu...selalu terlalu dewasa. 


Kali ini dia punya lebih banyak cerita baru. Terkadang dia selalu punya masalah, kadang hal-hal biasa yang dipermasalahkan. Kamu masih setia mendengar, katanya atas nama cinta dan persahabatan. Namun berbeda dengan kamu, kamu masih punya cerita yang sama. Cerita cinderella-mu, yang kamu jaga sejak dulu. 

Sama halnya seperti hari-hari sebelumnya. Kamu mengulang apa yang selalu kamu ulang, dan dia mencaci apa yang biasa ia caci. Namun hari ini memang tidak seperti hari biasanya. Kamu mengulang ceritamu dengan senyum, masih sedikit pahit seperti dulu, tapi raut wajah penuh keyakinan semakin nampak di tiap harinya. Lalu dia? dia tidak sekasar dulu, meskipun kamu tahu... caciannya tak pernah benar-benar sekasar yang dia mampu. 

Ada yang paling kusuka saat kalian berjumpa sehabis ritual bercerita. Kalian biasanya berbagi harapan dan mimpi. Seakan ingin saling mengingatkan, bahwa katanya habis hujan terbitlah pelangi... meski becek di sana-sini. Hari ini ternyata hari bahagia. Kamu menunjukkan pada dia harapanmu yang kini bukan lagi harapan, melainkan kenyataan yang akan terwujud dalam hitungan waktu.  Sebagai jawaban atas kisah cinderella yang ternyata belum waktunya terjadi padamu. Kamu atau dia sama-sama percaya, bahwa pelangi itu benar-benar ada entah dengan wujud apa dan kapan datangnya. Pelangi itu tetap akan datang. Mungkin bukan pangeran dengan sepatu cinderella, tapi siapa sangka... ini juga salah satunya dari mimpi dan harapan yang paling luar biasa, yang pernah ada, yang pernah kamu buat dan dia dengarkan dengan seksama. Harapan dan impian untuk bisa melihat dunia, lebih jauh dari yang kamu bisa. Mengenal dunia, lebih dari yang sudah kamu lakukan. Hebatnya, dunia memberi kamu kesempatan. Dunia menukar pangeranmu dengan pengalaman baru, kira-kira apa lagi yang lebih keren dari itu? 

Aku tahu kamu dan dia sedikit gugup, tak apa... menatap dunia yang lebih luas memang perlu dihadapi dengan rasa gugup. Supaya kamu bisa sangat berhati-hati menikmati setiap detiknya. Juga dia bisa sangat seksama merasakan kebanggaanya. 

Tak ada alasan untuk tidak berbahagia jika sebuah harapan kemudian menjadi nyata. Dia kemudian menangis, meraung-raung seperti anak kecil yang kehabisan es krimnya. Air matanya meledak begitu saja, kupikir ia tahu betul sejauh apa harapanmu telah tertanam, dan seberapa luka yang kamu dapat atas nama kehidupan. Seberapa besar kamu bangkit dan berusaha merajut kembali perasaan, sedikit demi sedikit mengubur kisah cinderella-mu dan menatap mantap menggapai harapanmu yang baru. Air matanya meledak begitu saja, menyadari bahwa sedikit atau banyak... 


caciannya telah didengarkan.