Minggu, 10 Juni 2018

Lost one


 
aku terus memandanginya di jendela, matanya sedari tadi mengarah pada langit.

Aku terus bertanya bagaimana bisa ia melakukannya? menahan sinar terik yang menusuk kedua matanya dan tampak baik-baik saja. Wajahnya layu, tapi yang kutahu seperempat hidupnya dia habiskan seperti itu.
Sesekali ia memejamkan mata, entah karena terik menyakiti kedua matanya, atau dia sedang menikmati alunan musik di telinga. Mungkin juga bukan karena keduanya, mungkin sesuatu mengusik pikirannya... atau mungkin sesuatu mendekam disana untuk sekian lama. Aku tak pernah tahu persis apa yang ia suka. Tapi sepertinya langit selalu memberinya udara, sejak dia yang ada dibenaknya pergi entah kapan. Bahkan sosok dia tak pernah terbayang seperti apa wujudnya.
Dia yang selalu diceritakan dengan mata yang nanar dan senyum pahit.
Dia yang mungkin bayangnya ada di langit, dibalik awan, atau dibalik teriknya mentari, yang selalu ia rindukan dengan hati-hati. Aku tahu sebenarnya aku tak perlu hawatir lebih lama. Karena tak akan lama ia berada disana, ia akan kembali masuk meninggalkan langitnya. Ia akan menelusuri lorong dan kembali ke kamarnya yang temaram, yang selalu ia bangga-banggakan.Wajahnya biasanya gusar, seakan mencari-cari seperti apa wujudnya bahagia.


Ingin kusampaikan padanya bahwa sesungguhnya bahagia ada pada dirinya, yang mungkin ia telah lama lupa. 







Doubt

Apakah hanya aku yang menyadarinya? 

Ia selalu ceria, seperti ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja dan semua akan baik-baik saja saat bersamanya. Aku suka caranya berbicara, selalu berusaha menyamankan. Tapi bagaimana dengan hatinya? apakah dia merasa nyaman juga?  sekelebat aku melihat ragu dari matanya. Ragu akan dirinya sendiri, kecemasan yang entah apa sebabnya. Namun senyumnya selalu berusaha meyakinkan. Aku selalu berada dalam kebingungan, mengapa aku tak mudah tertipu senyuman. Kukasihani dia, atas ketidaktahuannya... Betapa menyenangkannya dia, dan bagaimana seharusnya dia senang akan dirinya sendiri. Tak ada alasan bagi sekelebat ragu itu hadir, tak seharusnya kecemasan itu menyapa dan tinggal disana. 

Entah sudah berapa lama.










Jatuh cinta lagi

Kuanggap ini sebuah kerugian, bertemu denganmu di usia 23. Kamu, Seseorang yang katanya takut jatuh cinta. Mungkin ini juga waktu yang tepat, karena jika aku mengenalmu sedari dulu.... aku tak akan rela menemukan hari dimana kamu berhenti, untuk percaya cinta lagi. 

Kamu mungkin akan meralat kata-kataku, kamu akan bilang cinta itu ada. Kamu hanya enggan menghampirinya, atau berusaha pergi ketika ia datang untuk sekedar bertegur sapa. Kamu bilang padaku, bahwa siap jatuh cinta artinya siap jatuh sakit. Aku bertanya....

 " sesakit itukah, waktu itu? "

kamu hanya tertawa. 

Aku tak pernah tahu seperti apa sakitnya, karena kamu selalu menyematkan tawamu dalam setiap kisah yang kamu bagikan padaku. Terkadang aku berpikir mungkinkah kamu terlalu ceria atau sedang berusaha selalu ceria. Tapi apapun itu, aku tahu keceriaan adalah kekuatanmu, kehebatanmu. Begitupula ketika mereka bertanya, "sudahkah kau miliki dia?  atau sudahkah seseorang memilikimu?" 

kau kembali tertawa dengan sederhana, berkata
 " mungkin belum usianya " 

Jujur saja, aku tak suka candamu yang satu itu. 
Kamu kembali bercerita, sejak saat itu kamu tak pernah lagi menemukan sosok dia, diamu. Mungkin karena dia tak pernah datang mencoba, atau belum ada yang benar-benar menyentuhmu penuh makna. Kamu bilang, untuk jatuh cinta perlu keberanian. Keberanian seperti apa? jika bagiku kamu lebih dari sosok yang berani. 

Bagaimana tidak, kamu menghabiskan waktumu untuk mereka, yang kamu sebut orang-orang yang kamu cinta. Orang-orang yang mohon pamit baik terang maupun gelap untuk menemui orang yang dikasihinya. Kamu kemudian akan menyematkan senyuman dan lambaian tangan untuk mereka, yang hendak berbahagia. Kamu terkadang sendiri, kadang kamu masih ditemani. Tapi apakah kamu tahu rasanya sepi? jika kamu mengenal sepi daripada aku, bukankah kamu seorang pemberani? 

Jika aku satu dari mereka yang kau cinta, mungkin kali ini waktunya aku pergi untuk dia sementara. Lalu apa yang kamu lakukan sebelum kami kembali?  Aku mengerti, bagi kita sendiri adalah energi. Tapi bukankah ini sudah waktunya untuk mengakhiri ? 

sudah saatnya kamu tahu bahwa kamu seorang pemberani
sudah waktunya kamu jatuh cinta lagi