Minggu, 10 Juni 2018

Lost one


 
aku terus memandanginya di jendela, matanya sedari tadi mengarah pada langit.

Aku terus bertanya bagaimana bisa ia melakukannya? menahan sinar terik yang menusuk kedua matanya dan tampak baik-baik saja. Wajahnya layu, tapi yang kutahu seperempat hidupnya dia habiskan seperti itu.
Sesekali ia memejamkan mata, entah karena terik menyakiti kedua matanya, atau dia sedang menikmati alunan musik di telinga. Mungkin juga bukan karena keduanya, mungkin sesuatu mengusik pikirannya... atau mungkin sesuatu mendekam disana untuk sekian lama. Aku tak pernah tahu persis apa yang ia suka. Tapi sepertinya langit selalu memberinya udara, sejak dia yang ada dibenaknya pergi entah kapan. Bahkan sosok dia tak pernah terbayang seperti apa wujudnya.
Dia yang selalu diceritakan dengan mata yang nanar dan senyum pahit.
Dia yang mungkin bayangnya ada di langit, dibalik awan, atau dibalik teriknya mentari, yang selalu ia rindukan dengan hati-hati. Aku tahu sebenarnya aku tak perlu hawatir lebih lama. Karena tak akan lama ia berada disana, ia akan kembali masuk meninggalkan langitnya. Ia akan menelusuri lorong dan kembali ke kamarnya yang temaram, yang selalu ia bangga-banggakan.Wajahnya biasanya gusar, seakan mencari-cari seperti apa wujudnya bahagia.


Ingin kusampaikan padanya bahwa sesungguhnya bahagia ada pada dirinya, yang mungkin ia telah lama lupa.