Selasa, 12 Maret 2019

Anxiety


Aku bukan penulis, jadi siapapun tidak akan menemukan tulisan yang menggugah perasaan disini. Tapi aku mau membagi sedikit apa yang ada di kepalaku selama enam tahun ini. Tulisan ini berulang kali gagal aku sampaikan, karena terkadang... apa yang aku tulis belum cukup menggambarkan apa yang dirasakan dan ingin diungkapkan. Well, kali ini... aku akan membiarkan ketidaksempurnaan dalam penyampaian itu terjadi. 

Enam tahun ini, bahkan mungkin lebih dari itu masalah terbesarku adalah kecemasan. Di tahun pertama aku menyadari itu, aku berusaha mencari cara, bagaimana melepaskan diri dari kecemasan tersebut. Tapi ternyata, bukan hanya aku yang mengalami itu, kita semua mengalami itu... namun dengan intensitas dan response yang berbeda. Kita selalu diliputi rasa cemas akan apapun. Kita cemas akan masa depan, pandangan orang, kata-kata orang, nasib, dan berbagai hal yang belum terjadi lainnya. Disaat yang berbeda atau bahkan mungkin bersamaan, kita cemas terhadap masa lalu, kesalahan di masa lalu yang belum bisa kita ubah, penyesalan, kesakitan, kegagalan, semuanya. Keduanya menghantui kehidupan kita di masa sekarang. Bagi sebagian orang yang beruntung, menghadapi itu adalah suatu kemudahan. Tapi bagi sebagian lainnya... entahlah. 

Aku mencoba berbagai cara, untuk bisa lepas dari itu. Kecemasan akan ketidakpastian, sesungguhnya sumber dari setiap permasalahan. Melepaskan kecemasan akan kegagalan di masa lalu dan berusaha untuk tidak mengontrol masa depan. Akhirnya pada tahapan pertama, aku  memutuskan untuk belajar memahami ketidakpastian. Apa itu ketidakpastian, bagaimana ketidakpastian itu bekerja. Hal ini dilakukan untuk bisa memanusiakan diri, untuk lebih memahami alasan kenapa suatu kecemasan bisa terjadi. Aku mendapati bahwa menerima diri, dengan bagaimana diri kita mengekspresikan kecemasan dan apa yang kita cemaskan akan membantu kita menuju step berikutnya. 

Terkadang, penerimaan diri akan bentuk kecemasan yang biasa kita keluarkan ini menjadi tahapan yang amat sangat sulit. Kenapa? karena secara tidak sadar kita terus membandingkan apa yang sebenarnya kita rasakan dan terjadi pada diri kita dengan standar yang kita anggap benar, atau standar yang diterapkan oleh kebanyakan orang. Sehingga sulit bagi kita, melakukan penerimaan diri itu. 

Aktifitas selanjutnya yang aku rasa membantu dalam proses penerimaan dan proses memahami diri adalah dengan mendengar cerita dan menulis. 
Mendengar cerita dan menulis, bagiku selalu punya nilai magis. Mendengarkan cerita adalah bagian dari refleksi diri. Terkadang aktifitas refleksi tidak bisa dengan sengaja dilakukan. Tapi dengan mendengarkan cerita, kita seakan-akan dipaksa untuk tidak sekedar mendengar dan memberi saran. Tapi melihat ke diri sendiri, apa yang salah, apa yang juga seharusnya diperbaiki. 

Dengan menulis, aku juga belajar memahami diri. Setelah menemukan kesalahan-kesalahan, kekurangan, aku belajar memahami cara pandangku sendiri, memahami apa yang aku rasakan dan bagaimana aku menyikapi itu. Di titik ini aku menyadari, bahwa sesungguhnya hal yang dilalui oleh banyak orang adalah bagaimana kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan tanpa perlu ketakutan tapi juga dengan cara yang tepat.

Sedikit demi sedikit, kecemasan itu tidak menghilang, tapi bisa diterima dan dikontrol. Karena aku mulai memahami bahwa kecemasan adalah hal yang manusiawi. Aku tidak lagi cemas apa yang akan dilakukan oleh dunia atas setiap tindakan yang mungkin akan aku lakukan, atau mungkin telah aku lakukan. Karena dunia ini pun sama seperti aku, merasa cemas. Semuanya sama-sama sedang berusaha, menjadi sebaik-baiknya diri mereka menurut versi mereka sendiri, begitu juga aku. 

Aku menemukan ini sangat menenangkan. Aku bisa dan masih terus belajar menikmati apapun yang terjadi sekarang. Saat hancur, aku memahami bahwa kehancuran memang selalu terjadi, pada siapapun dan kapanpun. Aku tidak terlalu tenggelam atau jika terlanjur tenggelam, aku tahu cara untuk kembali ke permukaan. Juga saat bahagia, aku menikmati kebahagiaan itu. Tanpa peduli apakah suatu hari nanti kebahagiaan ini mungkin akan pergi. Aku hidup di hari ini, bahkan bisa merasakan kebahagiaan tanpa terjadi banyak hal istimewa di hari yang sama. Ini sangat menangkan, merasa cukup, feeling content. Aku tahu inilah yang selama ini kita cari, untuk orang-orang seperti 'kita' yang bertahun-tahun mempelajari dan menyadari betapa sulitnya menghadapi anxiety. 


xoxo
with love, Adzwa